Hadiah Untuk Sebuah Kebaikan Hati
Oleh: Hilaria Helendrika
Suatu hari
mama mengajak Tara pergi ke
Supermarket untuk belanja bulanan. Tara sangat
senang, ditambah lagi mama menyuruhnya memilih satu mainan yang ia sukai. Mama
bilang kalau mainan itu adalah hadiah untuk Tara
karna ia sudah membersihkan halaman rumah dengan bersih dan
yang pasti tanpa disuruh. Mereka berangkat jam 8 pagi.
Lima belas menit kemudian mereka
sampai di Supermarket.
“Mama, ayo cepat, cepat, cepat!”. Kata Tara tidak sabaran.
“Sabar, sayang”, jawab mama.
Tara
tidak sabar untuk melihat
mainan-mainan yang terpajang di
etalase Supermarket dan yang pasti langsung memilihnya. Karena kesempatan seperti
ini sangat jarang Tara temui,
biasanya Tara hanya
mengantar saja dan tidak berbelanja tapi
kali ini mama mengijinkannya untuk membeli satu mainan.
Setelah masuk ke Supermarket mereka membeli
perlengkapan sehari-hari,
setelah selesai Tara langsung
mengajak mamanya ke bagian mainan.
“Ma, ma, ma, coba lihat yang ini bagus
sekali. Kalau Tara membelinya
pasti Dona akan senang bermain dengan Tara!.” Kata Tara bersemangat.
“Terserah Tara mau yang mana, tapi jangan terlalu mahal
dan jangan membeli seperti yang sudah pernah Tara miliki, ya?,” kata mama sambil mengelus
rambut anak sematawayangnya itu.
“Ok…k…ey
bos!!!.” Seru Tara
girang.
Cukup lama mama menunggu Tara memilih mainannya. Mama melihat
arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 10.28.
“Aduh, cepat pilih mainannya, sayang. Mama lupa kalau nanti sore ada
arisan di rumah mamanya Rendi.
Kita pulang sekarang, ya?, supaya bisa tidur siang!.” Kata mama.
“Ya sudah!,
Tara pilih yang ini saja”, kata Tara sambil menunjuk satu packet mainan buah-buahan.
Mama lalu mengambilnya untuk Tara.
Setelah semua belanjaan dihitung dan
dibayar mereke keluar dari Supermarket dan segera menunggu taxi. Saat itu mata Tara tertuju pada seorang pengamen perempuan yang
sebaya dengannya. Mata Tara
pun mulai berkaca-kaca, ia kasihan melihat anak itu.
Tanpa sepengetahuan mama, Tara
berjalan menuju anak itu. Tapi ia bingung apa yang akan ia beri untuk anak itu.
Tara melihat kantong belanjaannya,
di dalamnya hanya ada mainan. Ia pun bertekad untuk menjual mainan itu tanpa sepengetahuan mamanya. Tara menghampiri seorang Bapak yang
sedang berjalan dengan anaknya yang juga sebaya dengan Tara.
“Om,
apa Om mau membeli mainan Tara?.” Tanya Tara dengan wajah lugu dan polosnya.
“Namamu Tara? Mengapa Tara mau menjual mainan ini? Bukankah mama Tara membelinya untuk Tara?.” Jawab si Bapak.
“Ia, tapi lihat anak itu. Tara mau memberinya makanan tapi Tara hanya punya mainan, jadi
mainannya Tara jual dan
uangnya akan Tara gunakan
untuk membeli makanan untuk anak itu.” Jawab Tara dengan wajah yang mengundang iba.
“Ia, tapi Tara
mau mengantar Om untuk bertemu mama Tara?”, kata Bapak itu.
Tara mengangguk.
“Itu mama Tara?”,
Tanya Bapak itu.
Tara
mengangguk. Bapak itu pun menghampiri ibu Tara dan menceritakan pada ibu Tara
tentang apa yang Tara katakan
tadi. Ibu Tara menggeleng
kepala tak percaya.
“Mulia sekali hatimu, Tara.” Kata Ibu.
Ibu pun memberikan Tara sejumlah uang dan menyuruhnya memberikan uang itu kepada anak pengamen
tadi tanpa harus menjual mainan yang baru ia beli.
Tiba-tiba Bapak tadi keluar dari Supermarket dan
membawa satu packet mainan, Bapak
itu memberikannya kepada Tara.
Bapak itu berkata bahwa mainan itu adalah hadiah untuk sebuah kebaikan hati. Tara sangat senang dan
berterimakasih kepada Bapak
itu.
“Ma, lihat!, hari ini Tara mendapat dua hadiah. Yang
pertama hasil kerja keras dan yang satu hasil kebaikan hati, Tara berjanji akan terus menolong sesama,
dengan
tidak mengharapkan balasan,
tentunya!.” Kata Tara girang.